Minggu, 18 Maret 2012

Laporan Kimia Dasar Tentang Kesetimbangan



LAPORAN KESETIMBANGAN
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I





Disusun Oleh :
Fajar Dwi Fauzi Hidayat
(0621 11 059)


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Tujuan Percobaan
§  Mempelajari kesetimbangan kimia dan beberapa aktor yang memepengaruhi kesetimbangan tesebut.
§  Menentukan sifat makrokopik dalam keseimbangan dan mencari suatu huungan yang konstan (anara konsentrasi berbgai ion) pada keadaan setimbang.

1.2.  Dasar Teori
Kesetimbangan dinamis adalah dimana dua proses yang berlawanan terjadi dengan laju yang sama. Akibatnya, tak terjadi lagi perubahan bersih dalam sistem pada kesetimbangan. Kita telah menyinggung beberapa macam keadaan kesetimbangan. Maka kita tinjau dua diantaranya, secara singkat.
1.         Jika suatu cairan menguap dalam wadah tertutup, pada satu waktu tertentu akan terjadi perubahan dari uap ke keadaan cair dalam laju yang sama dengan pengupannya. Dengan kata lain uap mengembun dengan laju yang sama dengan air menguap. Sekali pun molekul-molekul bolak-balik antara keadaan uap dan cair, pada kesetimbangan, tekanan yang disebabkan oleh uap tetap di setiap waktu.
2.         Jika padatan larut dalam pelarut, terdapat suatu titik dimana partikel padat tambahan larut dengan laju yang sama dengan pengendapan padatan yang telah larut. Larutan menjadi jenuh, dan konsentrasi tetap sepanjang waktu.
Jadi, ciri suatu sistem pada kesetimbangan ialah adanya nilai tertentu yang tidak berubah dengan berubahnya waktu.
AB + CD àAC + BD
Dalam kesetimbangan ini terjadi reaksi AB dan CD menjadi AC dan BD, dan pada saat yang sama, AC dan BD bereaksi menjadi AB dan CD. Akibatnya, keempat zat dalam sistem tu jumlahnya mendekati konstan.
Reaksi kimia adalah perubahan spontan pereaksi menjadi hasil reaksi menuju kesetimbangan. Suatu kesetimbangan kimia mempunyai konstanta kesetimbangan yang nilainya bergantung pada suhu dan jenis kesetimbangan.
·      Konstanta Kesetimbangan
Konstanta kesetimbangan konsentrasi adalah hasil perkalian konsentrasi zat hasil reaksi dibagi dengan perkalian konsentrasi zat pereaksi, dan masing-msing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya.
Dalam reaksi dapat balik, pada mulaya hanyaada pereaksi sedangkan zat hasil reaksi adalah nol. Selama reaksi berlangsung, jumlh pereaksi berkurang dan hasil reaksi terbentuk dan bertambah. Akhirnya dicapai kesetimbangan sehingga jumlah pereaksi dan hasil reaksi menjadi konstan.
Koefisien reaksi setiap komponen merupakanpangkat dari konsentrasi komponen tersebut. Degan demikian secara umum dapat dirumuskan  bahwa konstanta kesetimbangan
aAB + bCD à cAC + dBD
adalah
Kc =
Kcdisebut kinstanta kesetimbangan konsentrasi, karena banyanknya zat dinyatakan dalam konsentrasi. Jadi, dalam kesetimbagan kimia terdapat hubungan antara konstanta kesetimbangan dengan  persamaan reaksi, yang disebut hukum kesetimbangan.
·      Kesetimbangan Heterogen
Kesetimbangan kimia ada yang homogen dan heterogen. Kesetimbangan homogen adalah kesetimbangan  yang semua zatnya terlibat berwujud gas. Sedangkan kesetimbangan heterogen yaitu kesetimbangan yang wujud zatnya berbeda. Contoh:
CaCO3à CaO + CO2
2NaHCO3à Na2CO3 + CO2 + H2O
·      Kesetimbangan Disosiasi
Penguraian senyawa menjadi lebih sederhana disebut reaksi disosiasi. Jika reaksi disosiasi dapat balik, terbentuklah kesetimbangan disosiasi. Reaksi disosiasi mengansung satu  jenis pereaksi, sedangkan hasil reaksinya dapat satu, dua, atau tiga senyawa atau unsur.
Kesetimbangan disosiasi dapta terjadi bila pada mulanya sistem mengandung pereaksi, dan kemudia terurai menjadi hasil reaksi. Dalam sistem masih terdapat pereaksi karena hanya sebagian saja yang terdisosiasi (terurai). Bagian yang terdisosiasi ii disebut derajt disosiasi (α).
α =
Nilai α berada antara 0 dan 1. Nilai α = 0, bila pereaksi tidak terurai sama sekali, dan α = 1 bila terurai sempurna.
·      Termodinamika Kesetimbangan Kimia
Suatu reaksi kimia menjalani tiga keadaan, yaitu spontan (irreversible), dan tidak spontan. Jika dimisalkan pereaksi.
Konstanta kesetimbangan dapat diketahui dari hasil pengukuran atau perhitungan. Dengan mengukur tekanan parsial atau konsentrasi komponen kesetimbangan, baik pereaksi maupun hasil reaksi.
Pada kesetimbangan kimia mol masing-masing zat boleh berbeda, tetapi memenuhi nilai konstanta kesetimbangan. Oleh sebab itu, tiap zat dalam keadaan setimbang mempunyai energi bebas tertentu. Energi bebas keadaan standar dan setimbang.
·      Pergeseran Kesetimbangan
Kesetimbangan kimia bersifat mantap, karena konsentrasi semua zat dapat dikatakan konstan. Kemantapan itu ditandai oleh konstanta kesetimbangan. Namun demikian, suatu kesetimangan dapat berubah bila mendapt gangguan dati luar. Perubahan itu menuju ke arah tercapainya kesetimbangan baru yang disebut pergeseran kesetimbangan. Hal itu sesuai dengan asas le Chateleir yang menyatakan:
“Apabila satu sistem kesetimbangan dinamis mendapat gangguan dari luar, sistem akan bergeser sedemikian rupa sehinga pngaruh gangguan itu sekecil mungkin, dan  jika mungkin setimbang kembali”.
Prinsip Le Chatelier menyatakan bahwa jika sebuah aksi di terapkan pada suatu system yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Kesetimbangan itu akan bergeser untuk mengurangi aksi yang terjadi. Aksi adalah suatu yang di kerjakan terhadap istem. Misalnya, peningkatan konsentrasi salah satu reaktan atau produk akan menyebabkan kesetimbangan itubergeser dan berusaha untuk mengurangi konsentrasi zat yang meningkatitu. Jika kalor di tambahkan ke dalam system, kesetimbangan akan bereaksi untuk mengurangi aksi itu dengan menggunakan dari sebagain kalor tambahan tersebut dalam reaksi penguraian. Peningkatan tekana akan menggeser kesetimbangan untuk mengurangi jumlah mol total yang ada.
Meskipun prinsip Le Chatelier tidak memberitahuan kita seberapa besar kesetimbangan akan bergeser, ada satu cara untuk menentukan posisi kesetimbangan jika data kesetimbangan berdasarkan percoban telah di tentukan. Pada reaksi kesetimvbangan dengan suhu tertentu, perbandingan konsentrasi produk terhadap reaktan, di mana masing – masing konsentrsi ini telah cukup stabil (konstan).
  Beberapa fakor yang dapat menggeser kesetimbangan adalah perubahan konsentrasi, suhu, volume (tekanan), dan katalis.
Secara termodinamika reaksi kimia dapat dibagi atas tiga macam, yakni reaksi spontan, reaksi tak spontan, dan reaksi kesetimbangan. Ketiga macam reaksi tersebut dikaitkan/dicirikan dengan perubahan energy bebas ( yang menyertai reaksi  G negative menunjukkan reaksi spontan,  G positif berlaku bagi reaksi tak spontan dan jika tidak terjadi perubahan energy bebas ( G = 0) maka reaksi berada dalam kesetimbangan.

Pada umumnya reaksi kimia adalah reaksi kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan dapat dikenal dari sifat makroskopik yag konstan dalam suatu system tertutup atau dapat di anggap system tertutup pada temperature tertentu.





























BAB II
ALAT DAN BAHAN

2.1.  Alat yang digunakan
1)      Tabung Reaksi
2)      Tempat Tabung Reaksi
3)      Labu Ukur
4)      Gelas Ukur
5)      Pipet tetes
6)      Pipet Gondok

2.2.  Bahan
1)        FeCl3
2)        KSCN
3)        NaNO3
4)        Aquades














BAB III
METODA KERJA

3.1.  Pengenceran
§  Ambil larutan KCSN 0,1 M sebanyak 15 ml
§  Masukkan dalam labu ukur 50 ml
§  Tambahkan aquades sampai mendekati tanda tera dan tepatkan volume dengan menggunakan pipet tetes
§  Kocok 32 x agar larutan KCSN tersebut terlarut dalam air
§  Lakukan percobaan 1 – 4 dengan mengamati volume KCSN 0,1 M sebanyak 20 ml.

3.2.  Kesetimbangan
§  Siapkan KCNS dengan konsentrasi :
0,1 N               0,2 N               0,3 N               0,4 N              
0,5 N               0,6 N               0,7 N               0,8 N
§  Ambil larutan KCNS sebanyak 0,5 ml, menggunakan pipet volumetrik
§  Pindahkan ke dalam tabung reaksi, siapkan 8 tabung reaksi dan beri tanda,agar mempermudah melihat hasil reaksi nanti.(bersihkan pipet volumetric agar konsentrasi larutan KCNS tidak berubah)
§  Ambil larutan FeCl3 sebanyak 0,5 ml menggunakan pipet volumetric, kemudian masukkan dalam tabung reaksi yang tadi, aduk dan amati perubahan warna yang terjadi (warna berubah menjadi warna merah darah)
§  Tambahkan NaNO3 hingga warna larutan berubah menjadi warna semula (warna FeCl3 orange). Catat penambahan volume NaNO3 pada setiap tabung reaksi.





BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1.  Pengenceran
1.  0,03 dalam 50 ml
     V1 . N1 = V2 . N2
            V1 =  =  =  = 15 ml

2. 0,04 dalam 50 ml
     V1 . N1 = V2 . N2
            V1 =  =  =  = 20 ml

4.2.  Data Pengamatan Diplo (0,5 ml)
No.
FeCl3
KScN
Hasil
1
0,1 M
0,01 M
+
2
0,1 M
0,01 M
+ +
3
0,1 M
0,01 M
+ + +
4
0,1 M
0,01 M
+ + ++
5
0,1 M
0,01 M
+ + + +
6
0,1 M
0,01 M
+ + + + +
7
0,1 M
0,01 M
+ + + + + +
8
0,1 M
0,01 M
+ + + + + + +

ü  Tanda (+) = Kepekatan warna larutan (merah darah) semakin kebawah semakin meningkat (lebih pekat)





4.3.  Data Pengamatan Diplo (1 ml)
No.
FeCl3
KScN
Hasil
1
0,1 M
0,01 M
+
2
0,1 M
0,01 M
+ +
3
0,1 M
0,01 M
+ + +
4
0,1 M
0,01 M
+ + ++
5
0,1 M
0,01 M
+ + + +
6
0,1 M
0,01 M
+ + + + +
7
0,1 M
0,01 M
+ + + + + +
8
0,1 M
0,01 M
+ + + + + + +

ü  Tanda (+) = Kepekatan warna larutan (merah darah) semakin kebawah semakin meningkat (lebih pekat)

4.4.  Data Pengamatan Perubahan Warna
Larutan 0,5 ml                                           Larutan 1 ml
Fe(SCN)3
NaNO3 (ml)
Percobaan 1
5 ml
Percobaan 2
6 ml
Percobaan 3
7 ml
Percobaan 4
8 ml
Percobaan 5
9 ml
Percobaan 6
10 ml
Percobaan 7
11 ml
Percobaan 8
12 ml
Fe(SCN)3
NaNO3 (ml)
Percobaan 1
7 ml
Percobaan 2
8 ml
Percobaan 3
9 ml
Percobaan 4
10 ml
Percobaan 5
11 ml
Percobaan 6
12 ml
Percobaan 7
13 ml
Percobaan 8
14 ml







Reaksi persamaan larutan tersebut adalah:
Fe (SCN)3 + 3NaNO3à Fe (NO3)3 + 3NaSCN


BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan yang telah dilakukan menggunakan FeCl3 yang di-campurkan dengan KCNS menghasilkan Fe(CNS)3. Sebelumnya terlebih dahulu mengencerkan KCSN menjadi larutan dengan konsentrasi 0,01 sampai dengan 0,08 N dengan menggunakan air sebagai pelarut. Setelah KCSN dilarutkan sampai konsentrasinya sesuai dengan yang diinginkan, maka KCSN dicampurkan dengan FeCl3 sebanyak masing-masing 0,5 dan 1,0. Percobaan ini dilakukan diplo supaya hasil yang didapatkan lebih akurat lagi.
Setelah masing-masing larutan dicampurkan maka campuran tersebut diamati perubahan warna masing-masing. Terlihat dari perubahan warna bahwa apabila menggunakan konsentrasi KCSN lebih tinggi maka warna merah yang dihasilkan akan lebih pekat, sebab konsentrasi kedua larutan sama tingginya. Reaksinya sebagai berikut:
FeCL3 + KCSN à Fe(CSN)3 + KCl

Setelah mengamati perubahan warna, maka larutan campuran yang terdiri dari Fe(CSN)3 dilarutkan dengan NaNO3 supaya larutan yang tadinya berwarna merah darah dapat kebali ke warna yang semula. Dengan mengukur berapa banyak NaNO3 yang digunakan untuk merubah warna larutan tersebut. Dari percobaan didapatkan hasil bahwa larutan yang warna merah darahnya paling pekat memerlukan NaNO3 lebih banyak dari pada yang lain, sebab pada konsentrasi larutan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain oleh sebab itu larutan NaNO3 yang diperlukan untuk mengembalikannya lebih banyak. Dengan reaksi kimianya sebagai berikut :
Fe (SCN)3 + 3NaNO3à Fe (NO3)3 + 3NaSCN




BAB VI
KESIMPULAN

Dari hasil kegitan praktikum baik dalam pengamatan, perhitungan serta pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.        Reaksi yang terjadi dipengaruhi oleh volume dan konsentrasi.
2.        Konsentrasi larutan mempengaruhi konsentrasi hasil reaksi.
3.        Konsentrasi yang tinggi memerlukan volume larutan yang banyak untuk mengembalikannya ke keadaan semula.






















DAFTAR PUSTAKA


Keenan, A. Hadyana Pudjaatmaja, PH. CL, 1992. Kimia Untuk Universitas, Jilid 1. Bandung: Erlangga.

Sukri, S. 1999. Kimia dasar jilid 2. Bandung : ITB

Petrucci, H. Ralph, Suminar,1989,Kimia Dasar,Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta: Erlangga



3 komentar: